Anisafitriana89's Blog
Just another WordPress.com weblog

Tugas Bahasa Indonesia 2

Aspek Kebahasaan Indonesia dalam Karya Tulis
Akademik/Ilmiah/Kesarjanaan

Gagasan mengenai aspek kebahasaan ini pernah disampaikan penulis dalam ceramah ilmiah di hadapan rombongan mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi UNPAD dalam rangka kunjungan resmi ke Fakultas Ekonomi UGM pada 6 Februari 1991. Gagasan tersebut telah dituangkan dalam artikel dengan judul “Aspek Kebahasan dalam Pengembangan di Indonesia” yang dimuat di Jurnal Akuntansi & Manajemen edisi November 1991. Artikel ini juga pernah dipresentasi oleh penulis di dalam diskusi akademik dengan mahasiswa petugas belajar Indonesia di Cleveland State University pada bulan Agustus 1993. Artikel ini telah dikembangkan dan direvisi serta diberi judul baru seperti di atas. Yang dimuat dalam media ini adalah edisi revisian tersebut.

Artikel ini dibagi dalam beberapa subtopik sebagai berikut:

Pengantar
Bahasa Indonesia di Persimpangan Jalan
Bahasa Menunjukkan Bangsa
Tugas Siapa
Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah
Perekayasaan Bahasa dan Pembentukan Istilah
Arti Penting Bahasa Asing
Kaidah Penting
Simpulan

Pengantar

Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Bahasa bukan saja merupakan alat komunikasi tetapi lebih dari itu bahasa dapat merupakan alat politis untuk mempersatukan bangsa. Beberapa negara sering mengalami gejolak politik hanya karena masalah perbedaan bahasa atau hanya karena tiadanya bahasa pemersatu. Bahasa juga sarana untuk menyerap dan mengembangkan pengetahuan.Bangsabangsa yang sudah mengalami kemajuan-kemajuan yang mengagumkan dan masuk dalam kategori bangsa maju pada umumnya mempunyai struktur bahasa yang sudah modern dan mantap.

Hal ini menimbulkan suatu pemikiran bahwa bahasa merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk dapat mengantarkan suatu bangsa untuk membuka wawasannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang.

Moeliono mengungkapkan bahwa untuk dapat memodernkan bangsa dan masyarakat maka pemodernan bahasa merupakan suatu hal yang sangat penting. Di Jepang, misalnya, usaha pemodernan bahasa Jepang yang dirintis sejak restorasi Meizi telah mampu menjadi katalisator perkembangan ilmu dan teknologi di Jepang. Hal ini dimungkinkan karena dengan pemodernan bahasa, semua sumber ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan cermat sehingga wawasan berpikir bangsa Jepang dapat dimodernkan lewat usaha penerjemahan secara besar-besaran.

Dalam artikel ini, penulis mencoba menyampaikan beberapa gagasan mengenai aspek kebahasaan Indonesia dalam pengembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan akuntansi. Perlu dicatat bahwa penulis tidak berpretensi untuk menjadi ahli bahasa.

Apa yang akan disajikan di sini justru merupakan reaksi dan sikap penulis akibat ketidaktahuan penulis sebelumnya tentang masalah kebahasaan. Ketidaktahuan tersebut ternyata sering membuat penulis frustrasi setiap kali penulis berusaha untuk mengungkapkan gagasan-gagasan konseptual secara cermat dalam bahasa tulis maupun lisan.

Frustrasi terjadi karena simbol bahasa Indonesia yang tersedia dan dipahami penulis sering tidak dapat merefleksi seluruh gagasan yang ada dalam benak sehingga selalu saja ada gagasan yang tidak terekspresi.

Bukan berarti setelah suatu pemahaman tentang masalah kebahasaan dan jalan keluarnya diperoleh penulis, lalu tidak ada masalah atau frustrasi lain. Apa yang penulis rasakan sebagai suatu ekspresi gagasan dalam simbol bahasa (kata, istilah dan kalimat) yang cermat justru sering tidak dipahami orang lain karena kesenjangan (atau ketidaktahuan) tentang kaedah yang digunakan untuk memahami makna yang terkandung dalam simbol bahasa tersebut. Oleh karena itu, di samping aspek strategik perkembangan bahasa Indonesia, dalam artikel ini akan disampaikan pula pemahaman penulis tentang kaedah-kaedah kebahasaan yang tersedia dalam sumber-sumber autoritatif.

Kaedah-kaedah kebahasaan yang dimaksud adalah masalah pembentukan istilah dalam bidang akuntansi yang akan mendorong konsistensi dan kemudahan dalam belajar akuntansi di masa datang. Mudah-mudahan kesamaan persepsi terhadap aspek kebahasaan ini akan memperlancar komunikasi ilmiah khususnya di lingkungan perguruan tinggi yang menurut penulis mempunyai kedudukan strategik dalam usaha pengembangan bahasa Indonesia. Walaupun fokus kebahasaan ditujukan untuk pengembangan akuntansi, konsep yang dibahas dalam artikel ini tentu saja dapat diterapkan dalam bidang pengetahuan yang lain.

Bahasa Indonesia di Persimpangan Jalan

Dewasa ini telah digalakkan usaha pengembangan bahasa Indonesia karena ada gagasan bahwa bahasa Indonesia harus dapat dijadikan bahasa keilmuan. Untuk itu perlu ada suatu tekad untuk memodernkan bahasa Indonesia. Usaha pemodernan telah ditandai dengan dibentuknya Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan diterbitkannya buku Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia.

Walaupun buku tersebut belum secara tuntas menggambarkan aspek kebahasaan yang diharapkan, terbitnya buku tersebut mengisyaratkan bahwa untuk memantapkan kedudukan bahasa Indonesia perlu ada suatu pembakuan baik dalam bidang ejaan maupun tata bahasa. Pembakuan ini merupakan suatu prasyarat untuk menjadikan bahasa Indonesia bahasa keilmuan.

Ciri bahasa keilmuan adalah kemampuan bahasa tersebut untuk mengungkapkan gagasan dan pikiran yang kompleks secara cermat. Kecermatan gagasan dan buah pikiran hanya dapat dilakukan kalau struktur bahasa sudah canggih dan mantap. Kedua buku tersebut merupakan salah satu sarana untuk menuju ke status bahasa keilmuan yang demikian.

Keefektifan usaha di atas tentu saja juga dipengaruhi oleh sikap dan tanggapan kita terhadap bahasa Indonesia. Kenyataan menunjukkan bahwa bahasa Indonesia harus bersaing dengan bahasa asing (Inggris). Kenyataan ini tidak hanya terjadi pada tingkat penggunaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat umum tetapi juga dalam kehidupan akademik. Cendekiawan dan orang yang berpengaruh biasanya mempunyai kosa kata asing (termasuk bahasa daerahnya) yang lebih luas daripada kosa kata Indonesianya.

Bahkan dalam kebanyakan hal bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua yang sering dipelajari bukan dengan kesadaran tetapi secara alamiah saja. Akibatnya usaha pengembangan bahasa Indonesia dewasa ini masih sering menghadapi hambatan. Sikap sebagian masyarakat yang sinis terhadap usaha-usaha pengembangan bahasa juga memberi kontribusi terhambatnya pengembangan bahasa Indonesia.

Lebih dari itu, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar belum merupakan suatu kebanggaan atau gengsi bagi penuturnya. Bahkan suatu struktur bahasa yang baik dan benar sering menjadi olok-olok sehingga dalam suatu artikel di sebuah majalah terkenal seorang penulis menganjurkan untuk mengganti Pusat Pembinaan Bahasa dengan Pusat Pembinasaan Bahasa. Penulis tersebut nampaknya tidak dapat membedakan antara bahasa baku dan ragam bahasa. Memang tidak mudah untuk memahamkan betapa pentingnya pengembangan dan pemodernan bahasa Indonesia kalau banyak orang (cendekiawan) yang sudah merasa mampu berbahasa Indonesia walaupun kemampuan tersebut mungkin diperoleh secara alamiah saja. Sementara itu, seorang pengamat bahasa dan sosial juga merasa frustrasi menyaksikan kenyataan bahwa sekarang orang lebih banyak menggunakan kesalahkaprahan sehingga dia menganjurkan untuk membakukan saja kesalahkaprahan tersebut (misalnya penggunakan kata daripada yang tidak pada tempatnya).

Moeliono menyatakan bahwa bahasa yang baku menduduki posisi yang tinggi dalam skala tata nilai masyarakat bahasa. Gengsi yang lekat pada bahasa yang baku itu, karena dipakai oleh kalangan terpelajar dan terkemuka, mendorong sikap masyarakat umum untuk menguasai pula supaya dapat dianggap termasuk kalangan yang berstatus sosial yang tinggi. Akan tetapi, sebagai hukum timbal- balik, selama lapisan yang berkuasa dalam masyarakat tidak memiliki prabawa dan kewibawaan yang patut dicontoh, maka gengsi bahasa baku itu pun tidak akan tinggi.

Akibatnya, khalayak ramai tidak bertekun pula untuk mengecap kebanggaan atas kefasihan bahasa itu. Bahasa baku berlaku sebagai acuan yang memberikan ketentuan akan tepat tidaknya pemakaian bahasa. Kerangka acuan ini menjadi teladan untuk dicontoh orang banyak.

Kenyataan dalam dunia pendidikan (khususnya perguruan tinggi) adalah bahwa sebagaian buku referensi atau buku ajar yang memadai dan lengkap biasanya berbahasa asing (Inggris) karena memang banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di luar negeri. Sementara itu kemampuan bahasa asing rata-rata pelajar dan mahasiswa dewasa ini belum dapat dikatakan memadai untuk mampu menyerap pengetahuan yang luas dan dalam yang terkandung dalam buku tersebut. Kenyataan tersebut sebenarnya merupakan implikasi suatu keputusan strategik implisit yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap pelajar harus sudah fasih bahasa Inggris setamatnya dari sekolah menengah sehingga bahasa Inggris mempunyai kedudukan istimewa dalam kurikulum sekolah. Akan tetapi, fakta yang sering dilupakan adalah bahwa bahasa Inggris tersebut juga harus bersaing dengan bahasa Indonesia. Lebih dari itu, orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris jelas harus belajar bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa pembanding. Dapat dibayangkan betapa sulitnya bagi orang yang hanya merasa mampu berbahasa Indonesia untuk belajar bahasa Inggris.

Moeliono menduga bahwa karena perhatian kita pada kedua bahasa itu berat sebelah, maka berdasarkan salah sangka bahwa setiap orang Indonesia mengenal bahasa Indonesia, lambat laun akan terulang suatu gejala bahwa sebagian dari kaum cendekiawan kita fasih berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia. Tentu saja hal ini jangan diartikan bahwa bahasa asing tidak perlu. Justru hal yang harus dicapai adalah bahasa Indonesia dikembangkan dan dikuasai sehingga struktur dan kaedahnya sama mantapnya dengan bahasa asing khususnya bahasa Inggris.

Tidak berarti bahwa tata bahasa Indonesia harus sama atau paralel dengan bahasa Inggris. Yang diperlukan adalah kemantapan kaedah (gramatika) dan sarana kebahasaan Indonesia lainnya. Bila hal ini tercapai, penerjemahan antarbahasa menjadi dipermudah dan orang juga akan menjadi mudah belajar bahasa asing karena struktur bahasa sendirinya sudah mantap. Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar bahasa asing dengan baik dan cepat kalau bahasa sendiri sebagai bahasa pengantar dan pembanding untuk memahami bahasa asing tersebut tidak dikuasai dengan baik? Banyak orang mengeluh bahwa mereka merasa sulit belajar bahasa asing tetapi mereka sering tidak menyadari bahwa kemampuan berbahasa Indonesianya tidak memadai untuk mendukung pemahaman bahasa asing.

Dalam persaingan tersebut dan dalam rangka mengatasi akibatnya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada suatu pertanyaan yang sangat mendasar yang dapat dijadikan suatu kebijakan strategik nasional yang penting.

Manakah yang lebih efektif untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan pemodernan wawasan berpikir para pelajar dan mahasiswa di masa datang: (1) mengajarkan bahasa asing kepada mereka sehingga mereka dapat membaca buku-buku asing atau (2) menerjemahkan buku asing itu ke dalam bahasa Indonesia sehingga ilmu pengetahuan asing itu dapat dipelajari oleh orang Indonesia yang tidak atau belum paham bahasa asing? Mungkinkah ilmu pengetahuan dan teknologi dapat segera dikuasai dan karya seni tinggi dapat segera dinikmati para pelajar dan mahasiswa tanpa mereka harus belajar bahasa asing?

Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Masing-masing pilihan akan membawa implikasi yang sangat luas baik dalam kehidupan masyarakat umum maupun masyarakat akademik. Apa yang terjadi di Indonesia dewasa ini juga merupakan refleksi dari keputusan strategik yang sekarang dianut baik secara sadar atau tidak. Implikasi keputusan strategik mengenai hal ini di Jepang seperti disinggung di awal artikel ini dapat dijadikan contoh.

Di negara tersebut, pelajar pada tingkat pendidikan menegah dan atas tidak harus menunggu fasih berbahasa Inggris untuk dapat menikmati karya-karya ilmiah dan karya-karya seni tinggi asing. Akibatnya, inovasi tumbuh dengan subur dan dapat disaksikan bahwa bangsa Jepang telah menikmati hasil keputusan strategik tersebut. Memang hasil seperti itu tidak dapat diraih dalam waktu pendek (dan juga tidak hanya faktor bahasa yang menentukan). Akan tetapi tidak ada usahakah dalam diri kita untuk menuju ke sana? Tidak adakah paradigma dan sikap baru dalam menghadapi masalah kebahasaan kita bila memang benar bahwa kemantapan bahasa merupakan katalisator kemajuan?

Bahasa Menunjukkan Bangsa
Kita memaklumi bahwa bahasa Inggris yang kita kenal sekarang memang dapat dikatakan mempunyai ejaan dan struktur bahasa yang baku. Oleh karena itu, bahasa tersebut telah mencapai status untuk digunakan sebagai bahasa keilmuan. Tentu saja kedudukan semacam itu tidak terjadi begitu saja. Bahasa tersebut telah mengalami pengembangan dan perluasan dalam waktu hampir tiga abad untuk mencapai statusnya seperti sekarang. Status yang demikian akhirnya juga menjadi sikap mental bagi pemakai dan penuturnya. Artinya, kesalahan dalam penggunaan bahasa baik tata bahasa maupun ejaan (spelling) merupakan suatu kesalahan yang dianggap “tercela” dan memalukan apalagi di kalangan akademik. Sudah menjadi kebiasaan umum dalam penilaian pekerjaan tulis pelajar dan mahasiswa di Amerika bahwa salah eja akan mengurangi skor pekerjaan tulis tersebut. Hal seperti itu dapat terjadi karena pemilihan ejaan didasarkan pada kaedah yang baku dan bukan didasarkan atas selera pemakai. Bandingkan dengan keadaan di Indonesia khususnya di kalangan ilmiah dan akademik.

Kesadaran akan adanya pedoman yang baku mencerminkan bahwa masyarakat mempunyai mentalitas untuk mengikuti apa yang menjadi ketentuan atau kesepakatan bersama. Memang dalam setiap ketentuan yang baku atau standar selalu ada penyimpangan.

Akan tetapi, penyimpangan tentu saja diharapkan sangat minimal. Bila penyimpangan lebih banyak daripada ketentuan yang baku berarti ketentuan baku tersebut praktis tidak ada manfaatnya sama sekali. Dalam kehidupan sehari-hari, bila kebijaksanaan lebih banyak dari ketentuan yang telah digariskan, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Bila dalam kehidupan bermasyarakat lebih banyak kebijaksanaan (yang berarti penyimpangan) daripada ketentuan hukum yang berlaku maka kepercayaan masyarakat terhadap hukum menjadi berkurang dan akhirnya masyarakat lebih mempercayai atau menganut jalan simpang.

Oleh karena itu, semboyan bahasa menunjukkan bangsa sebenarnya bukan sekadar ungkapan klise tetapi sebenarnya semboyan tersebut mempunyai makna filosofis yang sangat dalam. Sikap masyarakat terhadap bahasa barangkali dapat dijadikan indikator mengenai sikap masyarakat dalam hidup bernegara. Mungkinkah perilaku dalam penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini merupakan refleksi sikap mental kita yang selalu mengharapkan kebijaksanaan (baca: hak istimewa, prioritas, penyimpangan atau pengecualian) daripada mengikuti ketentuan yang berlaku?

Tugas Siapa

Seandainya ada keyakinan bahwa bahasa Indonesia harus ditingkatkan dan dimodernkan sehingga mempunyai kemantapan dan kemanfaatan yang setingkat dengan bahasa yang sudah modern dan maju, siapakah yang paling bertanggung jawab untuk mengembangkan? Tentu saja tugas pengembangan tidak seluruhnya ada di pundak Pusat Pembinaan Bahasa atau ahli bahasa. Semua yang terlibat dalam penggunaan bahasa mempunyai kewajiban untuk itu. Perguruan tinggi sebenarnya merupakan suatu agent of development dan agent of changes yang sangat strategik. Oleh karena itu, para partisipan (khususnya dosen dan mahasiswa) dalam proses pendidikan di perguruan tinggi tentunya harus ikut mendukung pengembangan tersebut.

Masalahnya adalah apakah sekarang ini para partisipan mempunyai kesadaran dan perhatian (awarenessdan concern) mengenai hal ini?

Dalam salah satu artikel lain, penulis mengemukakan bahwa kemampuan berbahasa dan menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi buah pikiran bukan merupakan sesuatu yang gifted tetapi merupakan keterampilan yang harus dipelajari dengan penuh kesadaran. Sayangnya banyak di antara kita yang sudah merasa dapat berbahasa (bahasa Indonesia khususnya) bukan karena mempelajarinya secara sadar akan tetapi memperolehnya secara alamiah. Bila kita ingin mencapai dan menikmati pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan ilmiah, maka bahasa yang dikuasai secara alamiah harus ditingkatkan (improved and refined) menjadi bahasa ilmiah.

Untuk percakapan dan penulisan sehari-hari dalam pergaulan umum, bahasa yang diperoleh secara alamiah memang cukup akan tetapi tingkat kecanggihan bahasa tersebut sebenarnya ada pada tingkat yang paling bawah. Ciri umum bahasa tersebut adalah struktur bahasa yang sederhana (sering tidak lengkap dan mengandung salah kaprah) dan kosa kata yang sangat terbatas. Bahasa tersebut cukup untuk sarana komunikasi umum dalam kehidupan umum sehari-hari.

Akan tetapi, bahasa awam atau alamiah tidak mampu atau kurang memadai untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah dan abstrak atau konseptual yang acapkali sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata atau fisik. Untuk mengungkapkan hal ini diperlukan struktur bahasa dan kosa kata yang lebih canggih. Ciri-ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terekspresi dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya.

Karena sudah merasa mampu berbahasa Indonesia, kebanyakan orang yang belajar atau berkecimpung di perguruan tinggi tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia dan mempunyai atau membuka kamus bahasa Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya orang sering merasa lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing. Anehnya, kalau seseorang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya, dia dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu aneh. Akan tetapi, kalau dia mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan “Apa artinya ini, kok aneh-aneh?” dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat. Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa seseorang sudah merasa cukup dan puas dengan bahasa awam atau alamiahnya. Banyak pula di antara pelajar dan mahasiswa sering mengeluh bahwa mereka sukar memahami suatu buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Barangkali salah satu penyebabnya adalah bahwa buku yang dibacanya membahas masalah konkret dan sederhana tetapi ditulis dengan bahasa yang kurang memadai sehingga sulit dipahami apalagi kalau pembaca hanya menggunakan struktur bahasa alamiahnya. Mahasiswa sering tidak tahu bahwa struktur bahasa dalam buku tersebut keliru sehingga menjadi tidak mudah dipahami maksudnya. Kemungkinan yang lain adalah (hal ini justru yang sering terjadi) bahwa buku tersebut memang ingin mengungkapkan sesuatu yang kompleks dan konseptual yang memerlukan struktur bahasa yang canggih dan ditulis dalam bahasa yang sangat memadai dan baku tetapi kita (mahasiswa) menggunakan struktur bahasa awamnya untuk memahami.

Mungkin banyak mahasiswa yang menuduh bahwa suatu buku sulit dipahami padahal sebenarnya mereka tidak mempunyai kemampuan bahasa yang memadai untuk memahami.

Memang diperlukan kemampuan berbahasa pada tingkat yang memadai untuk mampu menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual. Kalau hanya keterampilan teknis yang menjadi tujuan, bahasa alamiah memang sudah cukup. Apakah ketidakpedulian kalangan akademik terhadap pengembangan bahasa Indonesia justru disebabkan kenyataan bahwa yang dipelajari di perguruan tinggi sebenarnya hanyalah hal-hal yang sangat teknis dan bukan hal-hal yang bersifat konseptual?

Perekayasaan Bahasa

Kemajuan bahasa Indonesia dewasa ini sebenarnya cukup menggembirakan dan banyak memberi harapan. Kata-kata baru (yang mula-mula dianggap asing) mulai muncul dan beberapa kata menjadi berterima di masyarakat. Semua kata-kata baru tersebut telah dikembangkan oleh Pusat Pembinaan Bahasa, ahli bahasa, dan pemakai bahasa yang mempunyai kesadaran bahasa atas dasar perekayasaan bahasa (language engineering). Tentu saja pengembangan bahasa bukan semata-mata tugas ahli bahasa saja tetapi juga merupakan tugas penutur dan pemakai bahasa khususnya di lingkungan pendidikan.

Perekayasaan bahasa adalah proses penalaran yang digunakan dalam pengembangan istilah dan kosa kata. Dengan perekayasaan tersebut, bentuk bahasa sedapat-dapatnya memanfaatkan sarana morfologi bahasa Indonesia. Moeliono menjelaskan bahwa pada awal pemakaiannya seakan-akan kata-kata baru akan menjadi lebih asing dari bentuk asingnya. Akan tetapi, dalam jangka panjang usaha ini akan sangat menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena memberi sarana untuk meneruskan gagasan atau ilmu pengetahuan kepada mereka yang belum mengenal bahasa asing secukupnya. Usaha perekayasaan bahasa di bidang keilmuan bertujuan agar setiap makna istilah, baik yang berupa kata maupun yang berupa ungkapan dapat dijabarkan dari strukturnya.

Ketaatasasan akan menjadikan pemakaian yang seragam dalam hal sarana tata bahasa sehingga penafsiran akan seragam pula.

Perekayasaan bahasa telah mampu dan berhasil menciptakan istilah dan kata baru yang sifatnya menambah kosa kata dan menambah medan makna yang dapat diungkapkan dalam bahasa Indonesia sehingga suatu pengalaman atau gagasan dapat diungkapkan dengan simbol kata yang tepat. Kata-kata baru tersebut banyak yang sudah berterima baik di kalangan akademik maupun masyarakat umum. Misalnya, kata pelatihan (sebagai padanan training) mulai berterima dan banyak digunakan untuk membedakannya dengan latihan yang merupakan padanan exercise.

Kata pelaporan mulai digunakan di samping laporan untuk membedakan makna reporting (sebagai proses) dan reports(sebagai hasil proses). Kata rerangka perlu diciptakan untuk padanan frameworkuntuk membedakannya dengan kerangka yang digunakan sebagai padan kata skeleton. Di bidang ejaan, perekayasaan bahasa menganjurkan kata praktikuntuk mengganti praktek agar pembentukan istilah turunan (praktis, praktisi dan praktikum) dapat mengikuti morfologi bahasa secara taat asas (baca misalnya mingguan Editor, juga sekarang UMMAT, yang telah menaati kaedah ini). Keberterimaan beberapa kata atau istilah baru dalam masyarakat dewasa ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya cukup lentur dan adaptif dalam menerima gagasan baru. Oleh karena itu, dalam pengembangan istilah kita tidak
harus terbelenggu oleh apa yang nyatanya digunakan tetapi selalu berupaya
untuk menggunakan apa yang seharusnya digunakan.

Arti Penting Bahasa Asing

Mungkin sekali banyak orang menjadi khawatir bahwa kalau bahasa Indonesia menjadi maju dan semua buku sudah ditulis dalam bahasa Indonesia maka kemampuan pelajar dan mahasiswa berbahasa asing menjadi berkurang.

Memajukan bahasa Indonesia di masa mendatang tidak berarti mematikan bahasa asing. Yang sebenarnya harus dicapai adalah membuka cakrawala pelajar dan mahasiswa terhadap pengetahuan dan teknologi sejak dini tanpa harus menunggu fasih berbahasa asing. Kalau kita ingin lebih melebarkan cakrawala pengetahuan kita, bahasa asing jelas merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Masih langkanya buku-buku keilmuan berbahasa Indonesia dewasa ini mengharuskan kita (kalangan bisnis, akademik dan ilmiah) menguasai bahasa asing (khususnya bahasa Inggris).

Hal yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang dapat menguasai bahasa asing (termasuk membaca buku teks) dengan baik kalau dia juga menguasai bahasa sendiri (Indonesia) dengan baik pula. Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar bahasa Inggris yang mempunyai struktur yang baku dan canggih kalau dia sendiri tidak menguasai bahasa Indonesia yang baku (dan sebenarnya juga canggih) sebagai pembandingnya? Telah disebutkan di muka, banyak orang mengeluh dan merasa sulit belajar bahasa Inggris tetapi mereka lupa bahwa kesulitan tersebut sebenarnya disebabkan struktur bahasa Indonesianya sendiri
masih belum memadai.

Simpulan

Bahasa dapat mempunyai dampak yang luas dalam penyebaran maupun pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia sedang bersaing dengan bahasa asing dalam menemukan ciri khasnya. Sikap sinis dan apriori terhadap pengembangan bahasa merupakan salah satu faktor yang menghambat pengembangan itu sendiri.

Bahasa Indonesia nampaknya masih dipandang sebagai bahasa politis atau sebagai simbol persatuan tetapi belum dikembangkan menjadi sarana komunikasi untuk pengungkapan informasi yang kompleks dalam bidang keilmuan.

Atas dasar struktur dan morfologi bahasa Indonesia yang sekarang tersedia, bahasa Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi bahasa yang maju dan canggih sebagai bahasa keilmuan sehingga para pelajar dapat menikmati karya-karya sastra, ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi tanpa harus menunggu kefasihan berbahasa asing. Pada gilirannya, kefasihan berbahasa Indonesia akan sangat membantu proses dan pemahaman dalam belajar bahasa asing itu
sendiri.

Pembentukan istilah yang konsisten dan berkaedah akan memudahkan pengartian makna atau gagasan yang terkandung dalam simbol berupa rangkaian kata. Pembentukan istilah yang cermat ini akan sangat terasa manfaatnya dalam bahasa keilmuan yang mensyaratkan kecermatan ekspresi. Acapkali orang menciptakan istilah bukan dengan logika dan kaedah bahasa tetapi dengan perasaan atau pengalaman saja. Cara seperti ini dapat saja dilakukan tetapi hasilnya sering tidak mengena atau bahkan menyesatkan. Pengembangan pengetahuan dan bahasa sering menjadi terhambat karena orang mempertahankan apa yang sudah kaprah tetapi secara kaedah dan makna bahasa keliru sehingga penangkapan dan pemahaman suatu konsep dalam pengetahuan tertentu juga ikut keliru (walaupun tidak disadari). Istilah membawa perilaku. Oleh karena itu, istilah yang keliru dapat mengakibatkan perilaku yang keliru pula dan kalau perilaku yang keliru tersebut dipraktikkan tanpa sadar dalam suatu profesi maka profesi sebenarnya telah melakukan malpractice.

Perguruan tinggi merupakan pusat pengembangan ilmu sehingga perguruan tinggi tidak dapat melepaskan diri dari fungsinya sebagai pengembang bahasa Indonesia. Perguruan tinggi tidak harus tunduk pada apa yang nyatanya dipraktikkan tetapi harus dapat mempengaruhi selera penggunaan bahasa oleh masyarakat.

Kalau perguruan tinggi hanya mengajarkan apa yang nyatanya dipraktikkan dalam masyarakat maka hilanglah fungsi perguruan tinggi sebagai agen pengembangan dan perubahan (kemajuan). Perguruan tinggi hanya berfungsi tidak lebih dari sebuah kursus keterampilan. Dalam hal penggunaan bahasa, memang dapat diterima pandangan yang menyatakan bahwa the public has the final taste. Akan tetapi, selera masyarakat dapat diarahkan menuju ke selera bahasa yang tinggi kalau alternatifalternatif yang berselera tinggi ditawarkan kepada mereka.

Barangkali apa yang diungkapkan oleh Moeliono berikut dapat menjadi landasan kita dalam bersikap terhadap pengembangan bahasa. “The language planners and we mean not only the experts but also the members of other social groups who wish to see the Indonesian language become more refined, more flexible, more accurate and capable of serving its speakers in all of its purposes, should wholeheartedly try to guide the direction of the public’s taste by setting the example that is sensitive to the language’s uniformity as well as its multivariousness. If we want to expand the vocabulary and develop various styles, the problem that arises is whether the Indonesian language has enough means to make this modernization possible? To answer this question its speakers must exercise their creative power; they should not try to escape from difficulties and thereby abandon their ingrained tendency to stick to an accepted usage.”

Lampiran: Pengembangan dan Pembentukan Istilah Akuntansi

1. Pengantar

Atas dasar masalah kebahasaan, perekayasaan bahasa, dan tujuan pendidikan di masa datang, penulis yakin bahwa akuntansi dapat memanfaatkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan akuntansi sehingga akuntansi dapat dinikmati secara menyeluruh oleh mereka yang mungkin tidak paham bahasa asing.

Atas dasar swadaya dan perekayasaan bahasa, penulis mencoba untuk meringkas kaedah-kaedah yang dapat dijadikan pedoman dalam pengembangan istilah akuntansi. Kaedah tersebut penulis tuangkan dalam lampiran ini.

Pedoman tersebut hanyalah sebagian kecil dari pedoman yang dapat digunakan untuk mengembangkan istilah. Pedoman yang lebih lengkap tentunya dapat dipelajari dari buku-buku dan pedoman-pedoman bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh badan otoritatif (misalnya Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa). Pedoman yang dikemukakan penulis didasarkan pada kaedah-kaedah yang terdapat dalam beberapa penerbitan resmi badan yang berwenang tersebut. Pendekatan yang digunakan penulis untuk mendapatkan suatu pedoman adalah pendekatan normatif. Bila tidak ada ketentuan khusus dalam pedoman resmi penulis berusaha menggunakan swadaya bahasa dan analogi dengan memperhatikan sarana morfologi yang tersedia untuk mencari suatu padan kata. Karena bahasa bersifat dinamis, pedoman tersebut tentunya bukan merupakan harga mati. Dengan demikian, pedoman yang mungkin masih dianggap baru (dan kedengaran asing) sebagai hasil swadaya tersebut harus diuji validitasnya atas dasar perkembangan bahasa di masa mendatang.

Dewasa ini masih banyak kerancuan dan inkonsistensi dalam penentuan padan kata istilah akuntansi yang berasal dari bahasa Inggris. Hal tersebut disebabkan tidak digunakannya kaedah tertentu dalam pembentukan istilah. Istilah sering diciptakan atas dasar kebiasaan atau perasaan. Banyak istilah akuntansi yang sebenarnya dapat dengan mudah ditentukan bila kaedah tertentu yang telah tersedia diikuti dengan saksama. Kesaksamaan dalam menentukan istilah juga akan menentukan ketepatan makna yang melekat pada istilah yang bersangkutan. Berikut ini adalah beberapa pedoman yang mungkin dapat digunakan untuk acuan dalam menentukan istilah baru atau dalam mengganti istilah lama yang dianggap tidak tepat dalam bidang akuntansi.

Beberapa pedoman yang dikemukakan adalah pengindonesiaan istilah Inggris berpewatas kata kerja berbentuk past participle, pemanfaatan awalan ter-, pembentukan kata kerja dari kata serapan yang bermakna tindakan dan beberapa aspek penyerapan kata yang lain. Pedoman tersebut dipilih karena banyak istilah akuntansi yang dapat dikembangkan dengan pedoman tersebut.

2. Pengindonesiaan Istilah Inggris Berpewatas Past-Participle

3. Pemanfaatan Prefiks ter-
Prefiks (awalan) “ter-” mempunyai banyak fungsi dan dapat dimanfaatkan untuk membentuk istilah akuntansi yang memadai. Secara umum prefiks “ter” mempunyai arti dalam keadaan telah (bila diikuti kata kerja dan peristiwanya terjadi secara kebetulan atau tidak disengaja) dan paling (bila diikuti kata sifat). Bila kata kerjanya berkaitan dengan fungsi pancaindera atau fungsi tubuh manusia maka awalan “ter” mempunyai makna dapat di seperti misalnya terlihat, terdengar, terasa, terpahami dan tercerna. Makna yang terakhir ini dapat dikembangkan untuk kata kerja yang lain demi swadaya bahasa. Dengan alasan swadaya bahasa, awalan “ter” dapat membentuk kata sifat sebagai padan kata istilah Inggris yang berakhiran -able yang mempunyai makna dapat di- (di-kan/i) atau mempunyai daya/sifat dapat di- (di-kan/i) seperti misalnya “terukur” untuk padan kata measurable. Untuk membentuk kata benda, kata berawalan “ter-” tersebut dapat dijadikan bentuk “ke-an” seperti misalnya “keterukuran” sebagai pada kata measurability.Berikut ini adalah beberapa contoh kata sifat dan kata benda istilah akuntansi yang padan katanya dapat dibentuk dengan menggunakan swadaya bahasa tersebut. Biasanya kata dasar bahasa Inggrisnya adalah kata kerja.

applicable/applicability terterapkan/keterterapan
auditable/auditability teraudit/keterauditan
collectable/collectability tertagih/ketertagihan
comparable/comparability terbandingkan/keterbandingkan
marketable/marketability terpasarkan/keterpasaran
reliable/reliability terandalkan/keterandalan
understandable/understandability terpahami/keterpahamian
verifiable/verifiability teruji/keterujian

Istilah akuntansi adalah istilah teknis dan dalam hal tertentu dapat merupakan istilah keilmuan. Salah satu ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan makna yang memang berbeda sehingga suatu gagasan (yang kebanyakan bersifat abstrak) dapat terekspresi dengan tepat dan dapat ditangkap dengan tepat pula. Dengan pedoman dan swadaya di atas akan dapat dibedakan pengertian comparison (pembandingan atau perbandingan), comparable (terbandingkan), comparative (komparatif/berpembanding) dan comparability (keterbandingan).

4. Istilah Serapan Bermakna Tindakan
Banyak istilah teknis dalam akuntansi yang merupakan istilah serapan (khususnya dari bahasa Inggris). Istilah serapan dipilih sebagai padan kata karena merupakan pilihan terbaik ditinjau dari makna teknis yang terkandung dalam suatu istilah. Istilah serapan tersebut kebanyakan merupakan kata benda yang mempunyai makna sebagai tindakan atau proses. Kata benda tersebut kemudian diturunkan menjadi kata kerja dengan kaedah bahasa Indonesia.

Bila kata benda serapan sudah mengandung makna tindakan atau proses, tidak diperlukan akhiran -kan untuk membentuk kata kerja karena akan terjadi duplikasi arti.Berikut ini beberapa kata serapan dan padan katanya dalam bentuk kata benda dan kata kerja.

Allocation alokasi/mengalokasi
Capitalization kapitalisasi/menkapitalisasi
Classification klasifikasi/mengklasifikasi
Computerization komputerisasi/mengkomputerisasi
Confirmation konfirmasi/mengkonfirmasi
Depreciation depresiasi/mendepresiasi
Deregulation deregulasi/meregulasi
Discussion diskusi/mendiskusi
Elimination eliminasi/mengeliminasi
Evaluation evaluasi/mengevaluasi
Inspection inspeksi/menginspeksi
Observation observasi/mengobservasi
Proclamation proklamasi/memproklamasi
Production produksi/memproduksi
Realization realisasi/merealisasi
Verification verifikasi/memverifikasi

Kaedah di atas hanya berlaku untuk istilah serapan. Gabungan imbuhan me-kan mempunyai makna “membuat menjadi” sehingga di samping terjadi duplikasi imbuhan, pembentukan istilah di atas dengan akhiran -kan justru akan menggeser makna istilah yang sebenarnya. Moeliono memberi contoh penggunaan kata proklamasi.

Memproklamasi kemerdekaan jelas tidak sama dengan memproklamasikan kemerdekaan. Ungkapan pertama berarti “melakukan” atau “menyelenggarakan” proklamasi untuk menyatakan kemerdekaan sedangkan ungkapan kedua berarti “membuat” atau “menyebabkan” kemerdekaan menjadi proklamasi.

5. Penyerapan Akhiran Istilah Asing Secara Utuh

Dalam banyak hal, perlu dibedakan antara kata benda dan kata sifat atau kata benda konkret dan kata benda abstrak (yang bermakna proses) yang dipungut dari istilah asing. Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI)[17] memberi pedoman bahwa akhiran kata bahasa asing dapat diserap secara utuh untuk membedakan fungsi kata tersebut. Misalnya kata standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping kata standar, implemen, dan objek. Berkaitan dengan hal ini, PUPI tersebut menggariskan bahwa kata-kata asing berakhiran -ance, -ence yang tidak bervariasi dengan -ancy, -ency diserap menjadi kata Indonesia yang berakhiran -ans, -ens.

Contoh 1:
Ambulance ambulans
Audience audiens
Balance balans
Conductance konduktans
Performance performans
Reference referens

Kata-kata asing berakhiran -ance, -ence yang bervariasi dengan -ancy, -ency diserap menjadi kata Indonesia yang berakhiran -ansi, -ensi.

Contoh 2:
Efficiency effisiensi
Frequency frekuensi
residence/residency residensi
valence/valency valensi

Penulis berpendapat bahwa kaedah seperti pada Contoh 1 di atas hanya dapat diterapkan untuk kata-kata asing (Inggris) yang berdiri sendiri sebagai kata benda dan tidak bervariasi dengan kata sifat atau kata lainnya yang berakhiran -ant, -ent, dan -tial. Bila kata aslinya bervariasi dengan kata sifat lain yang berakhiran -ant, -ent, dan -tial maka kaedah penyerapannya mengikuti Contoh 2 meskipun kata sifatnya tidak selalu diserap ke dalam bahasa Indonesia, misalnya (beberapa merupakan istilah akuntansi):

absent/absence absen/absensi
accountant/accountancy akuntan/akuntansi
agent/agency agen/agensi
competent/competence kompeten/kompetensi
congruent/congruence kongruen/kongruensi
consequent/consequency konsekuen/konsekuensi
consistent/consistency konsisten/konsistensi
essential/essence essensial/esensi
existent/existence eksis/eksistensi
independent/independence independen/independensi
present/presence —/presensi
significant/significance signifikan/signifikansi
substantial/substance substansial/substansi
transparant/transparency transparan/transparansi
variant/variance varian/variansi

Dalam hal tertentu suatu kata asing diserap menjadi dua kata atas dasar Contoh 1 dan 2 dengan maksud untuk membedakan arti dan memperluas kosa kata. Misalnya, kata esens dan esensi keduanya digunakan untuk menunjuk pengertian yang berbeda; yang pertama untuk menunjuk pengertian sebagai bahan (benda konkret) dan yang kedua untuk menunjuk pengertian sebagai benda abstrak (atau proses/kegiatan).

Demikian juga, kata audiens (dalam arti kumpulan orang) dapat digunakan di samping audiensi (sebagai kegiatan yang berarti kunjungan kehormatan).

Kata bahasa Inggris lainnya yang banyak diserap secara utuh adalah kata-kata bahasa Inggris yang telah dikatabendakan dengan akhiran -ity. PUPI memberi pedoman umum bahwa kata-kata Inggris berakhiran -ity kalau diserap secara utuh akan menjadi kata Indonesia berakhiran -itas, misalnya kata universitas, komoditas, komunitas, reliabilitas, intensitas, sekuritas, prioritas, entitas dan sebagainya. Pedoman yang diberikan oleh PUPI tersebut sangat beralasan karena kalau dirunut secara etimologi, kata-kata bahasa Inggrisnya memang diturunkan dari bahasa Latin, Modern Latin atau Middle English yang berakhiran -itas atau -ite. Termasuk pula dalam kategori ini adalah kata-kata bahasa Inggris yang berakhiran -ty baik yang berdiri sendiri sebagai kata benda maupun yang merupakan pengatabendaan (penominaan) kata sifat atau kata kerja aslinya, misalnya kata-kata property, royalty, penalty, puberty, variety, dan novelty.

Kata-kata ini secara etimologi berasal dari proprietas, regalitas, poenalitas, pubertas, varietas, dan novellitas. Kalau kata-kata tersebut akan diserap secara utuh ke dalam bahasa Indonesia, kata-kata serapannya adalah properitas, royalitas, penalitas, pubertas, varietas dan novelitas.

Dalam tiap ketentuan selalu ada pengecualian. Kata-kata bahasa Inggris yang diturunkan dari bahasa Latin atau lainnya yang berakhiran tia, thia, tie atau siadapat diserap sesuai bunyinya menjadi kata Indonesia berakhiran ti seperti sympathy, amnesty, modesty, dynasty menjadi simpati, amnesti, modesti, dinasti. Namun demikian, kata-kata seperti itu cacahnya sedikit sehingga dapat dikatakan bahwa ketentuan umum penyesuaian ejaan -ity atau -ty menjadi -itasatau -tas selalu berlaku kecuali terdapat keragu-raguan. Bila terdapat keragu-raguan, asal-usul kata perlu dicari dalam kamus yang menjelaskan juga etimologi kata sehingga penyerapan kata menjadi konsisten dengan kaedah di atas.

6. Pembedaan Makna Proses dan Hasil

PUPI memberi petunjuk tentang penggunaan istilah yang dimaksudkan untuk membedakan antara kata bentukan yang mempunyai makna sebagai hasil tindakan atau kata bentukan yang mempunyai makna sebagai proses atau sebagai abstraksi (makna konsep).

Contoh:

Pemerolehan perolehan
Penyediaan sediaan
Perakitan rakitan
Perkenalan kenalan
Penyimpulan simpulan
Pelatihan latihan
Percetakan cetakan
Perhubungan hubungan

Sumber : http://www.suwardjono.com

No Responses to “Tugas Bahasa Indonesia 2”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s